TIMES TARAKAN, PACITAN – Cuaca ekstrem dengan intensitas hujan tinggi yang terjadi dalam sepekan terakhir berpotensi mengancam sektor pertanian di Kabupaten Pacitan.
Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Pacitan mengingatkan petani agar waspada terhadap risiko gagal panen, khususnya pada tanaman padi sawah yang saat ini masih berada pada fase pertumbuhan rentan.
Kepala DKPP Pacitan, Sugeng Santoso, Rabu (14/1/2026), mengatakan bahwa genangan air yang berlangsung dalam waktu lama dapat berdampak serius terhadap tanaman.
Kondisi tersebut berpotensi menyebabkan kerusakan akar, menurunkan produktivitas, hingga memicu gagal panen apabila tidak segera ditangani.
“Semoga tanaman yang ada saat ini tidak sampai tergenang, karena kalau tergenang dalam waktu yang lama bisa mengakibatkan gagal panen,” kata Sugeng.
Menurut Sugeng, selain ancaman genangan, tingginya curah hujan juga berimbas pada meningkatnya kelembaban lahan.
Kondisi ini menjadi faktor pendukung berkembangnya organisme pengganggu tanaman (OPT), baik berupa hama maupun penyakit tanaman yang dapat menurunkan hasil panen secara signifikan.
“Curah hujan dan kelembaban yang tinggi dapat juga berpengaruh pada hama dan penyakit tanaman. Ini menjadi perhatian kami,” ujarnya.
Sebagai langkah antisipasi, DKPP Pacitan telah melakukan surveilans lapangan melalui Petugas Pengamat Organisme Pengganggu Tanaman (POPT).
Kegiatan tersebut dilakukan untuk mendeteksi secara dini potensi serangan hama dan penyakit di sejumlah wilayah sentra pertanian di Kabupaten Pacitan.
“Hasil surveilans ditemukan beberapa hama dan penyakit tanaman yang berpotensi muncul jika tidak diantisipasi sejak awal,” jelas Sugeng.
Dalam hasil pemantauan tersebut, POPT menemukan sejumlah jenis hama dan penyakit tanaman yang patut diwaspadai.
Beberapa di antaranya adalah wereng batang coklat, wereng punggung putih, penggerek batang padi, kepinding tanah, tikus, serta penyakit virus kerdil rumput dan havar daun bakteri.
Seluruh OPT tersebut dikenal memiliki potensi merusak tanaman padi dalam skala luas apabila tidak dikendalikan secara tepat.
Sugeng menegaskan, upaya pengendalian tidak boleh dilakukan secara sembarangan. DKPP Pacitan justru mengimbau petani agar mengedepankan pengelolaan tanaman terpadu dan tidak tergesa-gesa menggunakan pestisida kimia.
“Aplikasi insektisida tidak dianjurkan saat ini, karena insektisida hanya dianjurkan jika populasi hama sudah mendekati ambang ekonomi,” tegasnya.
Untuk menekan risiko kerusakan tanaman, DKPP Pacitan telah mengeluarkan sejumlah rekomendasi teknis yang perlu diterapkan petani di lapangan.
Pertama, petani diminta melakukan pemantauan tanaman secara rutin minimal setiap minggu hingga umur tanaman mencapai 70 hari setelah tanam (HST).
Kedua, pengendalian virus kerdil rumput dilakukan dengan cara mencabut dan memusnahkan tanaman yang terindikasi terinfeksi.
Petani juga diimbau menghindari penyulaman tanaman pada umur lebih dari 30 HST serta menjaga keseragaman fase atau umur tanaman dalam satu hamparan agar penularan virus dapat ditekan.
“Keseragaman umur tanaman di hamparan sekitar itu penting untuk menekan risiko penyebaran virus,” kata Sugeng.
Rekomendasi berikutnya adalah penerapan pengelolaan tanaman dan lingkungan secara berimbang, termasuk pengaturan jarak tanam, kebersihan lahan, serta pengelolaan air.
Petani diminta menghindari genangan air secara terus-menerus di areal persawahan agar kondisi tanah tetap ideal bagi pertumbuhan tanaman.
“Pengelolaan air harus diperhatikan, hindari genangan terus menerus,” ujarnya.
Berdasarkan data DKPP Pacitan, luas lahan padi sawah di Kabupaten Pacitan saat ini mencapai 14.268 hektare.
Sementara itu, lahan pertanian tadah hujan atau tegalan tercatat seluas 45.597 hektare yang tersebar di seluruh 12 kecamatan.
Dengan luas lahan pertanian tersebut, Sugeng berharap seluruh pemangku kepentingan, mulai dari petani, penyuluh pertanian, hingga pemerintah desa, dapat bersinergi dalam menghadapi dampak cuaca ekstrem.
Langkah pencegahan sejak dini dinilai menjadi kunci untuk menjaga stabilitas produksi pangan daerah.
“Upaya antisipasi sejak awal sangat penting agar potensi kerugian akibat cuaca ekstrem bisa ditekan,” pungkas Sugeng. (*)
Artikel ini sebelumnya sudah tayang di TIMES Indonesia dengan judul: Cuaca Ekstrem Ancam Produksi Padi, DKPP Pacitan Waspadai Potensi Gagal Panen
| Pewarta | : Yusuf Arifai |
| Editor | : Ronny Wicaksono |